Sabtu, 08 Desember 2012

Debu Itu Kecil


Cakapnya dahulu aku menengadah
Buaiannya aku berpaling
Senyumnya kuanggap penjara
Enggan aku menatapmu…

Tak kau lihatkah kecilmu ini telah besar?
Aku sudah melihat syurgaku
Dirimu kurasa cukup tahu dan jangan sekali mendekapku, mengikutiku, memenjarakan aku
Dia…
Dia yang membuka dunia, dia yang membelikanku kacamata
Sedangkan engkau? Apa? Hanya kata kah yang kau junjung tinggi ke langit?
Bisa apa kata itu? Bisa apa?

Murka Maha Besar itu kepadaku…
Bahkan tatapan merah yang membakar jagat raya mulai kurasakan
Sayang Maha Besar itu kepadaku
Bangun! Bangun! Bangun!

Aku menangis, dengan mataku yang selalu aku keluarkan
Aku lemah, dengan tubuh-tubuhku yang ku bawa kerumah dia
Aku tak berdaya, dengan pengetahuan yang selalu membuatku dilangit-langit paling atas

Debu…
Kecil
Partikel
Kecil
Atom
Kecil
Electron
Kecil
Aku
Tak ada
Uangku
Lebih
Jabatanku
Lebih-lebih-lebih
Dan apapun yang lainnya
Tak sanggup lagi kukatakan lebih se…………kian tak ada

Maha besar aku tak melihat, bisu dan tuli
Ini adalah sepotong jalan yang baru aku tempuh
Maka restulah Kau padaku sekiranya aku menambal kerusakan jalan kemarin sore…

Dan untuk kau yang selalu aku remehkan
Sekarang aku meminta katamu…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar