Cakapnya dahulu aku menengadah
Buaiannya aku berpaling
Senyumnya kuanggap penjara
Enggan aku menatapmu…
Tak kau lihatkah kecilmu ini telah
besar?
Aku sudah melihat syurgaku
Dirimu kurasa cukup tahu dan jangan
sekali mendekapku, mengikutiku, memenjarakan aku
Dia…
Dia yang membuka dunia, dia yang
membelikanku kacamata
Sedangkan engkau? Apa? Hanya kata kah
yang kau junjung tinggi ke langit?
Bisa apa kata itu? Bisa apa?
Murka Maha Besar itu kepadaku…
Bahkan tatapan merah yang membakar
jagat raya mulai kurasakan
Sayang Maha Besar itu kepadaku
Bangun! Bangun! Bangun!
Aku menangis, dengan mataku yang
selalu aku keluarkan
Aku lemah, dengan tubuh-tubuhku yang
ku bawa kerumah dia
Aku tak berdaya, dengan pengetahuan
yang selalu membuatku dilangit-langit paling atas
Debu…
Kecil
Partikel
Kecil
Atom
Kecil
Electron
Kecil
Aku
Tak ada
Uangku
Lebih
Jabatanku
Lebih-lebih-lebih
Dan apapun yang lainnya
Tak sanggup lagi kukatakan lebih
se…………kian tak ada
Maha besar aku tak melihat, bisu dan
tuli
Ini adalah sepotong jalan yang baru
aku tempuh
Maka restulah Kau padaku sekiranya
aku menambal kerusakan jalan kemarin sore…
Dan untuk kau yang selalu aku
remehkan
Sekarang aku meminta katamu…
Tidak ada komentar:
Posting Komentar